July 05, 2012

~ True Love (2) ~



Title : True Love (2)
Author : Reny (@1206dpe)

Cast : 
- Kim Yoon Hae
- Cho Kyuhyun
- Lee Hyuk Jae
- Other cast



Bip..bip..
Ponselku berbunyi ketika aku sedang menikmati makan siangku. Kuletakkan sumpit yang kugunakan lalu kuraih ponselku. Aku melihat ke layar ponselku. Nomor tak dikenal.
"Yeobseo."
"Yeobseo... Yoonhae-ah..."
"Nae... Nugusaeyeo? (Ya... Siapa ini?)"
"Nugu? (Siapa?) Kau tidak mengenali suaraku lagi Yoonhae-ah?"
Deg... Suara itu...
"Hyuk...Hyukjae..."
"Iya ini aku."
"Darimana kau tahu nomor ponselku?"
"Itu bukan hal yang penting untuk dibicarakan sekarang. Yoonhae-ah aku ingin bertemu denganmu."
"Untuk apa?" jawabku singkat.
"Untuk menjelaskan semuanya."
"Tidak perlu. Kau tidak perlu menjelaskan apa-apa."
"Kumohon Yoonhae-ah.."
"Aku tidak bisa."
"Kenapa? Apa kau sedang sibuk sekarang? Kalau begitu kutunggu sampai kau pulang kerja."
"Aniya. Bukan itu."
"Lalu?"
"......."
"Ahh aku tahu, kau pasti takut pada suamimu."
Aku menarik nafas dalam.
"Hyukjae aku sudah menikah. Kau tahu itu. Jadi kumohon mengertilah. Aku tidak ingin mengecewakan suamiku."
"Setidaknya berilah aku satu kesempatan untuk menjelaskan semuanya Yoonhae."
"Tidak ada lagi yang perlu kau jelaskan Hyukjae."
"Kumohon Yoonhae-ah. Aku janji ini untuk yang terakhir kalinya aku menemuimu. Setelah itu aku akan pergi dari hidupmu selamanya dan membiarkanmu hidup bahagia dengan suamimu."
"....."
"Yoonhae-ah...."
"....."
"Jebal (kumohon)."
"Geurae (baiklah). Eonje? (kapan?)"
"Jinjja? Kau mau? Kalau begitu nanti sepulang kau kerja aku akan menjemputmu. Katakan jam berapa aku harus menjemputmu Yoonhae-ah."
Dapat kutangkap ada kebahagiaan  tersirat dari suaranya di seberang sana.
"Andwae. Katakan saja kau dimana biar aku yang menemuimu."
"Baiklah. Kutunggu kau di cafe tempat kita biasa bertemu dulu. Otte? (Bagaimana?)"
"Ehm."

Aku meletakkan ponsel di meja kerjaku. Hhh...aku sudah kehilangan selera makanku. Aku tidak tahu apakah keputusanku untuk menemui dia adalah keputusan yang tepat atau tidak.  Aku hanya tidak ingin Hyukjae terus mengusikku dan Kyuhyun.  Aku hanya berusaha melindungi pernikahanku. Maksudku dengan aku menemui Hyukjae aku berharap itu adalah benar-benar pertemuan terakhir kami.
Kubuka laci mejaku dan kuambil sebingkai foto dari sana. Foto pernikahanku dan Kyuhyun.
Walaupun pernikahanku dengan Kyuhyun baru berusia 6 bulan tapi aku merasa dialah jodoh yang telah ditakdirkan Tuhan hanya untukku. Dan dia bisa membuatku  menyadari bahwa ada orang yang benar-benar tulus mencintaiku. Dia menyadarkanku bahwa tidak seharusnya aku menyia-nyiakan hidupku hanya untuk mengenang seseorang di masa lalu. Dia juga yang menyadarkanku bahwa aku mencintainya kini.
"Saranghae Kyu." ucapku lirih sambil kuraba perutku yang masih rata meskipun disana ada benih cintaku dan Kyuhyun. Usia kehamilanku memang masih 4 minggu sekarang.

Bip.. Bip..
Ponselku berbunyi lagi. Aku melirik layar ponselku. Kali ini aku mengangkatnya dengan sangat antusias.
"Selamat siang Tuan Cho ada yang bisa saya bantu?" kataku sambil tersenyum.
"Ani. Aku hanya ingin mendengarkan suara istriku."
"Maaf Tuan tapi istri Anda sedang sibuk sekarang."
"Ehm benarkah? Ya sudah kalau begitu. Sampaikan padanya kalau aku sangat merindukannya."
"Baiklah Tuan nanti saya sampaikan."
"Ehm."
"Tunggu Tuan..." kataku saat ia akan menutup teleponnya.
"Ada apa lagi?"
"Saranghae." bisikku.
Hihihihi...Kyuhyun terkikik.
"Nado saranghae Nyonya Cho."
Hihihihi...aku tersenyum membayangkan kelakuan kami berdua. ^^
"Kyu sepertinya nanti aku tidak bisa pulang bersamamu."
Aku dan Kyuhyun bekerja di kantor yang berbeda. Dan biasanya Kyuhyun selalu  mengantar dan menjemputku ke kantor karena kebetulan kantorku berada di tengah-tengah antara apartemen & kantor Kyuhyun.
"Ada apa Yoonhae-ah? Kau sibuk?"
"Bosku baru saja memberitahuku bahwa ada kliennya yang mengajaknya meeting mendadak."
"Ehm..begitukah? Geurae. Apa perlu nanti kukirimkan supir kantorku untuk menjemputmu setelah meeting?"
"Aniyo. Tidak perlu Kyu lagipula aku tidak tahu meeting nanti selesai jam berapa. Kau tidak masalah kan pulang sendiri?"
"Tentu saja masalah Nyonya Cho. Tidak ada yang memasakkanku makan malam nanti."
"Aku akan cepat pulang setelah meeting selesai Kyu."
"Geurae....kau hati-hati ya. Kau harus pintar-pintar menjaga Kyuhyun kecil di dalam perutmu. Arachi?"
"Arasseo."
Klik..
Aku mengakhiri pembicaraan kami di telepon.
"Hhh..." aku menarik nafas dalam.
"Mianhae Kyu." ada penyesalan dan rasa bersalah di dalam hatiku. Ini untuk pertama kalinya aku berbohong pada suamiku selama pernikahan kami.
Segera kubereskan kotak makan siangku lalu kembali bekerja. Aku harus menyelesaikan pekerjaanku secepatnya agar aku bisa secepatnya meninggalkan kantor untuk menemui Hyukjae dan bisa secepatnya pulang.

[Pukul 17.00]

-Hyukjae P.O.V-

Aku duduk di sudut sebuah cafe yang dulu sering aku datangi bersama Yoonhae. Pikiranku melayang ke beberapa tahun lalu saat aku dan Yoonhae masih menjadi sepasang kekasih. Aku begitu bahagia pada saat itu. Senyumnya, tawa riangnya dan hatinya yang tulus telah membuatku benar-benar jatuh hati padanya. Ahh mengingat semua itu membuat dadaku terasa sesak. Yoonhae, aku tau aku harus melepaskanmu karena kau telah memilih namja itu untuk menjadi pendamping hidupmu. Tapi aku butuh waktu untuk bisa melupakanmu.
Ahh..kalau saja dulu aku tidak pergi begitu saja meninggalkannya meskipun aku pergi itu demi dia. Kalau saja aku kembali padanya lebih awal. Kalau saja peristiwa maut sore itu tidak terjadi. Aku pasti hidup bahagia bersama Yoonhae saat ini. Ahh haruskah aku menyalahkan takdirku? Haruskah aku menyalahkan Tuhan yang telah menakdirkan semua ini padaku?

Aku masih sibuk dengan pikiranku tentang Yoonhae dan masa lalu kami ketika kulihat sesosok yang kukenal memasuki cafe.
"Yoonhae-ah...disini." aku melambaikan tangan padanya. Yoonhae menoleh padaku lalu menghampiriku.
"Maaf aku terlambat." katanya datar.
"Aniyo...ayo duduklah." aku menarikkan sebuah kursi untuknya duduk.
"Kau mau pesan apa?"
"Tidak perlu. Aku tidak ingin berlama-lama disini. Suamiku sedang menungguku dirumah. Sekarang cepat katakan apa yang ingin kau katakan."
"Hhh...baiklah." kataku.
"....."
"Pertama aku ingin meminta maaf padamu Yoonhae-ah. Maafkan aku karena dulu aku meninggalkanmu."
"Tanpa kau minta aku sudah memaafkanmu."
"Jinjja? Gomawo Yoonhae-ah."
Yoonhae bergeming.
"Ada lagi yang ingin kau katakan?"
Aku menarik nafas dalam sebelum mulai berbicara.
"Yoonhae-ah terima kasih karena kau masih mau menemuiku. Aku minta maaf karena aku memaksamu untuk menemuiku. Aku janji ini adalah pertemuan kita yang terakhir. Setelah aku menceritakan semuanya padamu aku akan menghilang selamanya dari kehidupanmu. Apa kau tidak ingin tahu apa alasanku meninggalkanmu dulu?" sedemikian rupa aku mengatur hatiku untuk mengatakan semua itu. Berat. Sesak.

[Flashback]

3 tahun yang lalu...

Aku dan Yoonhae sedang menonton film di rumahku. Yoonhae menyandarkan kepalanya manja di bahuku dan aku menggenggam erat tangannya.
"Yoonhae-ah..."
"Hmm"
"Suatu hari nanti aku akan melamarmu seperti itu." kataku saat melihat sebuah adegan di film yang sedang kami tonton.
"Benarkah?" Yoonhae mendongakkan kepalanya menatap kearahku.
"Ehm." aku mengangguk tegas.
"Tunggu aku. Aku akan bekerja dan mencari uang untuk pernikahan kita nanti. Setelah aku punya cukup uang aku akan kembali padamu dan melamarmu. Kau mau menungguku?"
Yoonhae mengangguk tegas.
"Aku akan menunggumu Hyukjae." katanya sambil tersenyum.
"Gomawo Yoonhae-ah." kupeluk erat yeojachinguku yang sangat kucintai itu.
"Saranghae." bisikku.
"Nado saranghae Hyukjae."
Aku melepaskan pelukanku. Kuangkat dagunya lalu menciumnya. Ciuman yang lembut di awal namun berubah menjadi ciuman yang lebih dalam.

"Hei..kau kenapa Hyukjae-ah?" suara seseorang membuyarkan lamunanku. Aku menoleh ke arah datangnya suara itu.
"Oh...Junsu-ah.."
"Apa yang kau lakukan disini sendiri huh? Kau melamun?"
Aku menggelengkan kepalaku.
"Aku hanya sedang berpikir."
"Tentang?"
"Yoonhae. Aku ingin melamarnya tapi aku tidak punya apa-apa saat ini."
"Mworago? Kau akan melamar Yoonhae? Hahahaha....sahabatku sudah dewasa rupanya."
"Aku serius. Aku ingin melamarnya. Tapi sebelum itu aku harus bekerja untuk bekalku nanti. Kau bisa membantuku Junsu-ah?"
Junsu menghentikan tawanya seketika.
"Ehm....kau mau bekerja diperusahaan abbuji?"
"Apakah dia mau menerima seorang lulusan manajemen yang tidak bisa apa-apa ini?"
"Hei jangan rendahkan dirimu seperti itu Hyukjae. Kau cukup pintar. Kau juga rajin dan yang aku suka darimu adalah kau memiliki tekad yang kuat. Aku yakin kau akan sukses nantinya.
"Hmm...begitukah? Lalu apa yang harus aku lakukan?"
"Bagaimana kalau kau kuajak menemui abbuji besok. Otte?"
"Hm." aku mengangguk tegas.
"Gomawo Junsu-ah. Kau memang sahabatku yang paling baik." aku memeluk sahabatku itu erat-erat.
"Ya! Ya! Lepaskan aku Hyukjae! Kau mau membunuhku huh?!"
"Hahaha...mian mian aku terlalu gembira."

Dan akhirnya aku pun bekerja di perusahaan Kim Ahjussi, ayah sahabatku, Junsu. Tapi aku harus meninggalkan Korea karena beliau memintaku untuk bekerja di cabang perusahaannya yang ada di Taiwan sekaligus belajar tentang ilmu marketing disana. Awalnya aku ragu menerima tawarannya  namun aku teringat janjiku pada Yoonhae. Akhirnya kuterima tawaran itu. Aku bertekad akan bekerja dan belajar dengan serius disana demi keluargaku dan juga Yoonhae.

Setelah dua tahun bekerja, Kim Ahjussi mempercayakan jabatan Marketing Manager padaku. Menurut beliau prestasi kerjaku bagus dan aku berhak atas jabatan itu. Aku juga sudah menyelesaikan studiku dalam waktu 1,5 tahun. Semua itu kulakukan demi Yoonhae. Disamping keluargaku, Yoonhaelah yang menjadi cambukku untuk menjalani semua aktivitasku.
Kini 2,5 tahun sudah aku berada di Taiwan. Aku mengajukan cuti beberapa hari karena aku ingin kembali ke Korea untuk menemui keluargaku dan yeojachinguku, Yoonhae.

"Abbuji...omma..."
"Oh Hyukjae kaukah itu?" dengan tergopoh-gopoh omma membukakan pintu rumahku.
"Omona! Hyukjae-ah....kau sudah kembali nak." kata omma sambil memelukku erat.
"Nae omma ini aku. Bogoshippoyo eomma." aku membalas pelukan omma.
"Nado bogoshippo Hyukjae-ah. Yeobo... Sora-ah...lihat siapa yang datang."
Tak lama kemudian abbuji dan Lee Sora, noonaku, muncul di hadapanku.
"Aigoo anakku sudah kembali."
"Kyaaa uri namdongsaeng (adik laki-lakiku) neomu bogoshippo Hyukie."
Sora noona menghambur ke pelukanku disusul dengan abbuji. Kami berpelukan berempat. Aku tahu mereka pasti sangat merindukanku karena selama 2,5 tahun ini sekalipun aku belum pernah menghubungi mereka. Itu kulakukan agar aku bisa lebih fokus pada studi dan pekerjaanku. Itu juga yang kulakukan pada Yoonhae. Aku tidak pernah menghubunginya selama aku berada di Taiwan. Karena aku yakin kalau aku mendengar suara mereka aku pasti ingin segera kembali ke Korea. Dan itu artinya aku menunda impianku terwujud.

Aku sedang bersiap-siap di kamarku ketika omma menemuiku.
"Oh kau mau kemana Hyukjae-ah?"
"Aku ingin menemui Yoonhae omma."
"Aigoo kau pasti sangat merindukannya ya?" tanya omma penuh selidik.
"Keureom omma (tentu saja omma). Omma aku berencana melamarnya hari ini. Ottaeyo?"
"Jinjjayo?"
"Nae omma. Aku akan membeli sebuah cincin terlebih dahulu kemudian menemuinya dan melamarnya."
"Wah..daebak. Kudoakan kau berhasil anakku." kata omma sambil memelukku.
"Gomawo omma. Baiklah aku pergi dulu omma."
"Geurae...sampaikan salam omma pada calon menantu omma, arachi?"
"Arasseo omma."

[Flashback end]

-Hyukjae P.O.V end-

"Kemudian aku pergi ke toko perhiasan untuk membeli cincin." Hyukjae melanjutkan ceritanya. Aku tidak banyak komentar. Hanya perasaanku yang mulai tak menentu saat itu.
"Setelah itu aku segera mengendaraiku mobilku menuju rumahmu. Dan saat itulah peristiwa itu terjadi."
Seketika aku mengerutkan keningku.
"Peristiwa? Peristiwa apa?"
"Saat dalam perjalanan menuju rumahmu aku mengalami kecelakaan. Mobil yang kukendarai tertabrak truk. Itu yang membuatku tak bisa menemuimu saat itu Yoonhae-ah."
Deg...
Aku terkejut mendengar kenyataan itu. Kurasakan mataku sedikit memanas dan mungkin sebentar lagi menjadi basah.
"Akibat kecelakaan itu aku mengalami koma."
"Ko...koma?"
Hyukjae mengangguk.
"Kurang lebih 5 bulan aku berada di Rumah Sakit dalam kondisi tidak sadarkan diri."
Kurasakan dadaku mulai sesak kini. Enam bulan yang lalu Hyukjae mengalami kecelakaan dan pada bulan yang sama aku mengucap janji pernikahan bersama Kyuhyun. Tanganku bergetar menahan air mata yang memenuhi pelupuk mataku. Dadaku terasa sesak.
"Hingga akhirnya satu bulan yang lalu aku terbangun dari tidurku yang cukup panjang karena sahabatku, Junsu, selalu menggenggamkan benda ini padaku dan menceritakan impian-impianku tentangmu yang selalu kuceritakan padanya." Hyukjae mengeluarkan sebuah kotak kecil  berwarna hitam dari sakunya lalu menyodorkannya padaku.
"Benda itu yang membuat tubuhku yang seolah tak bernyawa sedikit demi sedikit memiliki kekuatan."
"A...apa ini?"
"Bukalah."
Perlahan kuraih kotak kecil yang ada didepanku lalu membukanya.
"Ci...cincin?"
"Nae. Cincin itu yang akan kugunakan untuk melamarmu yang kubeli sesaat sebelum kecelakaan itu terjadi."
Kulihat ada bekas darah dikotak itu. Sebutir air mataku jatuh membasahi punggung tanganku yang bergetar. Oh Tuhan benarkah itu yang terjadi padanya? Aku tidak tahu harus mempercayainya atau tidak. Otakku tidak bisa berpikir jernih. Dia yang kupikir telah melupakanku kini kembali dengan sebuah kisah yang membuatku terkejut. Dia yang kupikir telah mencampakkanku kini kembali disaat aku telah menjadi seorang istri.
Aku memandangi cincin dihadapanku itu. Sebuah cincin  dengan bertahtakan sebuah berlian yang indah. Cincin yang akan ia gunakan untuk melamarku. Dan karena cincin itu ia mengalami kecelakaan. Namun karena cincin itu juga ia mendapatkan kesadarannya.
Tess...
Air mataku turun lagi meskipun aku sudah berusaha menahannya.
"Yoonhae-ah aku tidak ingin merusak hubunganmu dengan suamimu. Aku hanya ingin memberikan benda yang seharusnya menjadi milikmu." Hyukjae menggenggam tangan kananku.
"Bawalah cincin ini bersamamu. Aku tidak ingin teringat terus padamu saat aku melihatnya."
Aku berdiri dari dudukku.
"Aku harus pulang sekarang."
Aku beranjal dari tempat dudukku. Aku sedikit berlari keluar dari cafe. Air mataku tumpah tak tertahankan.
"Yoonhae-ah... Yoonhae-ah..."
Aku mendengar Hyukjae memanggil namaku tapi aku mengacuhkannya. Dan aku pun meninggalkan cincin itu dimeja cafe. Yang kuinginan saat ini adalah cepat sampai dirumah. Segera aku mencari taksi untuk pulang. Sepanjang perjalanan pikiranku kalut dan hatiku resah.  Butiran bening itu jatuh terus menyusuri pipiku. Saat mendengarkan kisahnya ingin rasanya aku menghambur ke pelukannya untuk melepaskan rasa rindu yang selama ini kutahan. Tapi aku tidak bisa melakukan itu. Aku tidak ingin mengkhianati Kyuhyun.

"Aku pulang."
Kyuhyun yang sedang asyik bermain PSP menghentikan kegiatannya ketika mendengar suaraku.
"Oh wasseo? (Kau sudah pulang?)"
"Ehm." Aku mengangguk pelan.
"Aigoo sepertinya istriku lelah sekali hari ini?" kata Kyuhyun. Ia lalu meletakkan PSPnya dan menghampiriku.
"Aniya." aku menggelengkan kepala dan mencoba tersenyum padanya.
"Kau sudah makan Kyu?"
"Bagaimana bisa aku makan tanpa istriku hmm.." katanya sambil merangkulku.
"Mianhae aku terlambat pulang hari ini. Kau ingin makan apa Kyu? Biar aku siapkan untukmu."
"Aku ingin kau." katanya sambil menunjukkan evil smirknya padaku.
"Hmm...kau mulai lagi."
Kyuhyun tak menjawab. Ia malah melingkarkan tangannya di pinggangku, menarik tubuhku untuk mendekat padanya lalu menciumku sekilas.
"Kau tidak lapar?" tanyaku.
"Tentu saja aku lapar."
"Kalau begitu lepaskan aku. Akan kubuatkan sesuatu untuk makan malam kita."
"Sirheo. Kau harus menemaniku dulu." katanya lalu ia menciumku lagi.
Aku tau benar arti kata "menemani" yang baru saja ia ucapkan.
Kyuhyun mulai menciumku. Perlahan ia berjalan maju menuntunku ke arah ruang tamu sambil terus menciumiku. Kemudian ia duduk di sofa dan mendudukanku di pangkuannya. Tangannya kini meraba perutku dari balik baju yang kukenakan.
"Hmph..." aku mendesah tertahan karena Kyuhyun masih mengunci bibirku dengan bibirnya.
Kyuhyun lalu merebahkanku di sofa dan menindihku.
"Kyu hati-hati.." kataku ketika aku melepaskan ciumannya.
"Waegeurae?"
"Kau bisa menyakiti Kyuhyun kecil yang ada disini kalau kau menindihku begini." kataku sambil meraba perutku.
"Ahh mian aku lupa kalau kau sedang hamil." Kyuhyun segera menopang tubuhnya dengan kedua tangannya agar tidak menindihku.
"Ehm..bagaimana kau bisa lupa kalau aku hamil hmm?" aku mengerucutkan bibirku.
Chu~
Kyuhyun menciumku sekilas.
"Mian Yoonhae-ah tapi kau yang membuatku lupa segala-galanya."
Kyuhyun kembali menciumiku. Dan seperti biasa leher dan bahuku tak lepas dari serangannya.

Malam semakin larut tapi aku  sama sekali belum bisa tidur.  Kisah Hyukjae kembali terngiang ditelingaku. Wajah sayunya saat menceritakan semua itu sepintas lewat di depan mataku.
Tess...
Sebutir kristal bening jatuh dari sudut mataku.
"Andwae." aku menggelengkan kepalaku sambil menghapus air mata yang sempat terjatuh. Aku tidak boleh mengingat-ingat dia lagi. Aku harus melupakan dia. Aku harus menghapus rasa cinta untuknya yang ternyata masih kurasakan kini.
Aku mengubah posisiku menghadap ke kanan. Kulihat Kyuhyun yang berbaring damai disampingku. Aku menyibak rambut yang menutup keningnya lalu mendaratkan ciuman disana.
Oh Tuhan bagaimana mungkin aku mencintai dua namja sekaligus. Aku masih mencintai Hyukjae tapi aku juga mencintai namja ini.

Pagi-pagi sekali aku terbangun. Bukan. Lebih tepatnya aku memang tidak bisa tidur. Aku melihat kearah jam dinding. Masih jam 5 pagi. Aku turun dari tempat tidur bermaksud pergi ke dapur untuk memasak ketika Kyuhyun tiba-tiba memegang tanganku. Aku menoleh kearahnya.
"Kajima (jangan pergi)..." katanya.
Aku mengerutkan kening.
"Ireonasaeo? (Kau sudah bangun?)"
"Kajima Yoonhae-ah..." ucapnya lirih dengan mata yang masih tertutup.
Perlahan aku mendekatinya. Kuperhatikan wajahnya yang polos seperti bayi itu. Kugerak-gerakkan tanganku di depan wajahnya. Tak ada reaksi.
"Rupanya kau bermimpi Kyu." kataku.
"Kajima Yoonhae-ah...jebal... (jangan pergi Yoonhae-ah..kumohon..)"
Aku mengernyitkan alisku. Mengapa Kyuhyun terus-menerus mengucapkan kata-kata itu? Apa yang sedang dia pikirkan? Apakah dia sedang bermimpi? Kyuhyun menarik tanganku tiba-tiba hingga membuatku tertidur disebelahnya. Dipeluknya tubuhku erat-erat.
"Kyu..." aku memanggil namanya pelan sambil kuelus pipinya.
Tak ada reaksi.
"Apa yang sedang kau pikirkan? Buka matamu, aku disini. Aku tidak akan meninggalkanmu." kataku lirih.
"YONHAE-AH!!"
Aku terkejut karena tiba-tiba Kyuhyun bangun dan meneriakkan namaku dengan kerasnya.
"Kyu waeireo? (Kyu ada apa?)" kataku sambil menyentuh bahunya. Dia menoleh padaku lalu memelukku erat.
"Yoonhae-ah kajima." katanya. dengan suara sedikit parau.
"Waeire Kyuhyun-ah? Kenapa dari tadi kau mengatakan itu terus?" kuelus punggungnya untuk menenangkannya.
Dia tidak menjawab hanya pelukannya yang kurasa semakin erat. Cukup lama kubiarkan dia memelukku seperti itu. Entah kenapa aku merasa Kyuhyun yang ada dihadapanku saat ini benar-benar rapuh.
"Apa yang sedang kau pikirkan Kyu?" tanyaku setelah kurasa pelukannya sedikit mengendur. Kyuhyun melepas pelukannya lalu menatap mataku.
"Aku bermimpi." jawabnya singkat.
"Hmm."
"Kau pergi jauh meninggalkanku. Meskipun aku mencoba menahanmu tapi kau tetap pergi. Kupanggil namamu berkali-kali tapi kau mengacuhkanku."
Kutangkup wajahnya dengan tanganku dan kutatap matanya dalam-dalam.
"Tidak Kyu. Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku merasa disinilah tempatku, disisi suamiku."
Chu~
Aku mencium keningnya.
"Kau percaya padaku?" tanyaku lagi. Kyuhyun mengangguk.
"Saranghae Yoonhae-ah."
"Nado saranghae Kyuhyun-ah."
Kyuhyun memelukku lagi.
"Ya sudah kau tidurlah lagi. Aku akan membuat sarapan untukmu."
"Biarkan aku memelukmu seperti ini dulu."


-Kyuhyun P.O.V-

From. +8274xxxx
Kyuhyun-ssi apa kau ada waktu? Aku ingin bertemu denganmu. Lee Hyukjae.

Baru saja aku menerima sebuah pesan singkat dari namja itu. Dia ingin bertemu denganku? Seketika perasaanku tidak tenang saat teringat mimpiku semalam. Ahh apa yang dia inginkan dariku? Apakah dia ingin mengambil Yoonhae dari sisiku? Andwae! Maldo andwae! Aku tidak akan membiarkan siapapun mengambil Yoonhae dari sisiku.

To. +8274xxxx
Ada yang ingin kau bicarakan denganku?

From. +8274xxxx
Eo. Bisakah kita bertemu sore ini?

To. +8274xxxx
Geurae. Jam 6 sore. Cafe A.

From. +8274xxxx
Geurae. Kutunggu kau disana. Gomawo Kyuhyun-ssi.

Aku meletakkan ponselku dimeja kerjaku. Aku akan menemuinya sore ini. Bagus dia mengajakku bertemu karena memang ada sesuatu yang harus kukatakan kepadanya.

Sepulang kerja seperti biasa aku menjemput Yoonhae di kantornya lalu mengantarnya pulang. Setelah itu aku bilang padanya akan bertemu teman lama yang kebetulan sedang berlibur ke Seoul. Segera kularikan mobilku menuju Cafe A. Tempat yang sudah kujanjikan pada namja itu.

"Eo..Kyuhyun-ssi wasseo?" Namja itu menyambutku saat aku datang.
Tanpa banyak basa-basi aku duduk di hadapan namja itu.
"Kau mau pesan apa?"
"Tidak perlu. Cepat katakan apa yang kau inginkan." ujarku sedikit ketus.
Namja itu tersenyum kecil. Huh! Bahkan dia masih bisa tersenyum di depanku?

"Kyuhyun-ssi mianhaeyo karena aku tiba-tiba muncul dihadapanmu."
"....."
"Kuharap kau tidak marah padaku apalagi pada Yoonhae."
"Apa hakmu mengaturku?"
"Ahh mianhaeyo."
"....."
"Kyuhyun-ssi sebenarnya aku tidak tahu kalau Yoonhae sudah menikah. Aku datang hanya untuk memenuhi janjiku pada Yoonhae."
"Mworagoyo?"

[Pukul 20.00]

"Aku pulang." kulihat Yoonhae sedang menyiapkan makan malam di dapur.
"Eo Kyu..wasseo?"
"Ehm."
Yoonhae menghampiriku lalu mengambil tas kerja dan jas yang kubawa dan meletakkannya di kamar.
"Kau sudah makan? Kajja..aku sudah menyiapkan makan malam untuk kita." Yoonhae menuntun tanganku menuju meja makan lalu menyiapkan piring untukku.
"Cha..manhi mokgo (ayo..makan yang banyak)."
Lalu kami berdua pun menikmati makan malam kami. Sesekali aku melirik Yoonhae yang sedang menikmati makanannya.
"Kau memang cantik." kataku lirih.
"Eo..mworago Kyu?"
"Aniyo." kataku sambil meneruskan acara makanku.
"Oh ya Kyu bagaimana pertemuanmu dengan teman lamamu tadi? Menyenangkan?"
"Ehm"
"Kupikir kau tidak pernah punya teman dekat Kyu."
"Mwo?"
"Hihihi...kau selalu bersikap aneh pada orang lain. Kau seperti tidak membutuhkan orang lain disekitarmu. Aku benar kan?"
"Ya! Yoonhae-ah tidak bisakah kau membicarakan sesuatu yang baik tentang suamimu?"
"Tapi aku benar kan?" godanya.
"Ahh terserah kau sajalah."
Hihihihi... Yoonhae masih tertawa.
"Aku sudah selesai." aku menyelesaikan suapan terakhirku lalu segera kembali ke kamar.

-Kyuhyun P.O.V end-

-Hyukjae P.O.V-

"Ahh..."
Aku merebahkan diri di tempat tidurku. Akhirnya aku bisa mengatakan itu semua pada Kyuhyun. Sekarang perasaanku lebih lega. Yah..meskipun sebenarnya aku tahu akan sulit untukku menjalani hari-hariku setelah ini.
"Ah ya Junsu-ah." Tiba-tiba aku teringat sahabatku, Junsu. Aku memencet beberapa nomor di ponselku.
"Yeoboseyo Junsu-ah.."
"....."
"Ehm gwaenchana."
"....."
"Nae aku sudah mengatakan itu pada Yoonhae dan Kyuhyun. Kuharap mereka bisa memahamiku."
"....."
"Secepatnya aku akan kembali kesana. Aku sudah terlalu lama meninggalkan pekerjaanku."
"....."
"Nan jeongmal gwaenchana (aku benar tidak apa-apa). Kkokjongma Junsu-ah (jangan khawatir Junsu-ah)."
"....."
"Geurae...sampaikan juga salamku untuk Kim ahjussi, Kim ahjumma & Juno."

-Hyukjae P.O.V end-


Yoonhae-ah maaf kalau aku mengganggu hidupmu dengan kemunculanku yang tiba-tiba. Aku akan kembali ke Taiwan siang ini. Aku akan bahagia jika melihatmu bahagia maka teruslah tersenyum pada dunia yang indah ini.

Sebuah pesan singkat dari Hyukjae masuk ke ponselku. Aku segera mengambil tas lalu pergi menuju Incheon Airport.

-Hyukjae P.O.V-

"Masih 30 menit lagi." kataku sambil melihat jam di tanganku.
Segera kuselesaikan makan siangku. Lalu pergi meninggalkan cafe setelah membayar tagihannya. Aku menarik travel bagku menuju ke ruang tunggu. Kulihat ada seorang yeoja sedang duduk disana. Eo sepertinya sedang menangis. Kenapa dia? Kuputuskan untuk mendekatinya. Tapi...

-Hyukjae P.O.V end-

Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh penjuru Incheon Airport berharap belum terlambat menemukan sesosok namja yang ingin kutemui.
"Hyukjae...apakah kau sudah pergi?" kataku lirih. Tanpa terasa pipiku basah oleh air mata.
Aku berjalan cepat menuju tempat keberangkatan. Begitu ramai orang hingga menyulitkanku untuk menemukannya. Aku segera berlari ke bagian informasi.
"Permisi...apakah pesawat tujuan ke Taiwan sudah berangkat?"
"Belum Nyonya...pesawat akan berangkat 30 menit lagi."
"Oh geuraeyo? Kamsahamnida."
Aku kembali mengedarkan pandanganku.
"Hyukjae...kumohon aku ingin menemuimu untuk yang terakhir kalinya."
Aku duduk lemah diruang tunggu. Aku sudah mencarinya tapi aku tidak menemukannya.
Hiks..hiks..
Aku menutup wajahku dengan tangan dan menumpunya di kakiku sambil menangis.
"Yoonhae-ah." sebuah tangan menyentuh lembut bahuku. Aku mendongakkan kepalaku.
"Hyukjae-ah!" aku menghambur ke pelukannya lalu menangis sejadinya.
"Apa yang kau lakukan disini Yoonhae-ah?" Hyukjae mengusap lembut kepalaku.
"Aku... aku mencarimu. Benarkah kau akan pergi?"
Hyukjae melepas pelukannya lalu menuntunku duduk di kursi yang ada di dekat kami berdiri.
"Aku harus pergi Yoonhae-ah. Aku pun harus melanjutkan hidupku seperti kau."
"Hiks.. Mianhae Hyukjae...aku... "
"Ssstt...jangan berkata apa-apa lagi." Hyukjae menempelkan jari telunjuknya di ujung bibirku.
"Aku bisa memahami posisimu. Kau harus berjanji padaku kau akan hidup bahagia bersama keluarga kecilmu. Itu sudah cukup untukku."
Aku mengangguk pelan.
"Johta. Dengan begitu aku bisa pergi dengan tenang." katanya tenang sambil tersenyum.
Chu~
Reflek aku mendekatkan wajahku padanya dan menciumnya.
"Yoonhae apa yang kau lakukan?" Hyukjae terkejut. Ia melepaskan ciumanku.
"Kau harus berjanji akan hidup dengan baik disana."
"Tentu saja."
Perhatian..perhatian pesawat dengan nomor penerbangan KR 759 tujuan Taiwan akan segera diberangkatkan. Bagi penumpang yang telah memiliki tiket diharapkan segera masuk kedalam pesawat. Terima kasih.
"Aku harus pergi."
Aku mengangguk.
"Jaga dirimu baik-baik Hyukjae-ssi."
Aku dan Hyukjae menoleh ke arah sumber suara itu.
"Oh Kyu..." aku terkejut. Kyuhyun, sejak kapan dia ada disini?
"Oh Kyuhyun-ssi kau juga disini."
Lalu Hyukjae mendekati Kyuhyun.
"Apa Yoonhae memintamu kesini?"
"Aniyo."
"Kyuhyun-ssi aku harus pergi. Kutitipkan Yoonhae padamu. Ahh ani ani...aku tidak pantas mengatakan itu. Mianhaeyo"
"Hahaha...gwaenchana Hyukjae-ssi."
Igae mwoya (apa ini)? Kenapa Kyuhyun dan Hyukjae terlihat akrab sekali? Apakah aku bermimpi? Apakah itu artinya Kyuhyun sudah memaafkan Hyukjae?
Kyuhyun dan Hyukjae tersenyum. Kemudian mereka berpelukan satu sama lain. Itu membuat hatiku tenang. Terima kasih Tuhan, kukira mereka akan membuat onar disini.
"Ya! Kalian melupakanku?" sungutku.
Kyuhyun dan Hyukjae serempak menoleh ke arahku.
Hahahaha...
Mereka tertawa bersama.
Kemudian aku bergabung dengan mereka.
"Baiklah. Aku harus pergi sekarang."
"Ehm." aku dan Kyuhyun mengangguk.
"Hyukjae-ssi."
"Nae." Hyukjae yang akan melangkah pergi segera berhenti dan menoleh kepada kami ketika Kyuhyun memanggilnya. Aku mengerutkan keningku. Apa yang akan dilakukan Kyuhyun?
"Maafkan aku karena pernah memukulmu."
Apa? Kyuhyun pernah memukul Hyukjae? Kapan?
"Gwaenchana...tulang pipiku belum bergeser karena pukulanmu."
"Oh ya satu lagi."
"Mwonde? (Apa itu?)"
"Doakan Kyuhyun kecil yang ada disini. Delapan bulan lagi dia akan menjadi keponakanmu yang lucu." kata Kyuhyun sambil mengelus lembut perutku.
"Oh Yoonhae-ah kau sedang mengandung? Kenapa kau tidak memberitahuku?" kata Hyukjae sambil menghampiri kami.
"Kyuhyun kecil, kau harus tumbuh sehat. Kau harus jadi anak yang baik untuk appa dan ommamu. Ahjussi berjanji akan mengunjungimu lagi suatu hari nanti. Arachi?" kata Hyukjae sambil sedikit membungkuk bertumpu pada lututnya menatap perutku.
"Gomawo Lee Ahjussi." kata Kyuhyun.
Hyukjae tersenyum lalu dia pun pergi. Pemandangan yang begitu aneh. Aku melihat suami dan mantan namjachinguku begitu akrab satu sama sain. Ada apa ini? Tapi aku bersyukur melihat mereka berdua. Entah kenapa kini beban berat yang ada di dadaku telah hilang melihat keakraban yang baru saja diperlihatkan oleh Kyuhyun dan Hyukjae. Dua namja yang sama-sama kucintai.

"Kyu bagaimana kau tahu aku ada disini?!
"Aku selalu tahu dimana istriku berada."
"Kau ini.."
"Tadi aku berencana mengajakmu makan siang bersama. Lalu aku pergi ke kantormu dan tak menemukanmu disana. Tapi aku menemukan ini." Kyuhyun mengeluarkan ponselku dari dalam sakunya. Dan pesan singkat dari Hyukjae masih terpampang disana.
"Kau...membacanya?"
Kyuhyun mengangguk.
"Kyu..mianhae aku pergi kesini tanpa ijin kau terlebih dahulu." hati-hati sekali aku mengucapkan itu.
"Tapi kuharap kau tidak salah sangka. Aku pergi kesini untuk..."
Chu~
Kyuhyun menciumku. Aku bergeming.
"Aku tahu. Aku sudah dengar semuanya."
"Maksudmu? Kau..."
"Ya, aku melihat semuanya dan aku juga sudah mendengar semuanya. Tadinya kukira Hyukjae adalah namja yang tidak baik. Kukira dia akan merebutmu dariku. Tapi aku salah. Dia begitu berjiwa besar menerima kenyataan yang ada dihadapannya. Pantas saja kau begitu mencintainya."
"A...apa maksudmu Kyu? A...aku tidak mencintainya."
"Kau tidak perlu menutupinya Yoonhae-ah aku tahu itu. Kau itu tidak pintar berbohong. Kalau kau tidak mencintainya kenapa tadi kau menciumnya hmm?"
"Kyu..." aku tidak tahu harus berkata apa. Yang dikatakan Kyuhyun memang benar. Aku memang masih mencintai Hyukjae. Dan...omo! Kyuhyun melihatku mencium Hyukjae tadi? Dia pasti marah padaku.
"Tapi rasa cintaku padamu jauh lebih besar Kyu. Mungkin aku hanya terbawa emosi dan terlalu terlarut dalam kenanganku bersamanya."
"Jeongmal?" Kyuhyun mencoba menggodaku.
"Jeongmalyo." aku lalu memeluk Kyuhyun.
"Aku bersyukur Tuhan mengirimmu masuk ke dalam hidupku. Aku bersyukur memilikimu Kyu."
"Jinjja? Bukankah aku hanya penjadi penghalang cinta kalian berdua?"
"Ya! Apa yang kau katakan Kyu?" aku mengerucutkan bibirku dan melepaskan pelukanku.
Hahahahaha...
"Kau lucu sekali kalau cemberut seperti itu Yoonhae-ah."
"Kau mengerjaiku huh?" kataku sambil mencubit pinggangnya.
"Ya! Yoonhae-ah geumanhae (hentikan)."
"Tidak akan. Aku benci melihatmu tertawa puas melihatku." kataku sambil terus mencubiti pinggangnya. Aku tahu itu adalah daerah sensitifnya.
"Ya! Ya! Hentikan Yoonhae-ah."
"Tidak akan!"
"Ya Cho Yoonhae!" Kyuhyun memegang tanganku dan menguncinya di belakang tubuhku.
"Ya! Kyu...hmph." Kyuhyun menghentikan aku yang sedang mencubitinya dengan ciumannya. Tangan kirinya menarik punggungku mendekat dan tangan kanannya berada di tengkukku. Aku berontak.
"Ya! Kyu apa yang kau lakukan. Disini banyak orang kau tidak malu?"
"Aku mencium istriku sendiri. Untuk apa aku malu?"
"Kau.." aku mencubit pinggangnya lagi.
"Hentikan atau kau mau kucium lagi hmm?" katanya dengan evil smirk menghiasi wajahnya.
"Ara..ara...ya sudah ayo kita kembali ke kantor."
"Sirheo."
"Eo..kau tidak mau kembali bekerja?"
"Aku ingin melanjutkan yang baru saja tertunda denganmu dirumah."
"Aigoo kau ini. Siang-siang begini sudah meminta yang aneh-aneh. Aku harus kembali ke kantor Kyu."
"Andwae. Kau menolak suamimu sendiri?"
"Aniyo bukan begitu tapi kita bisa melakukannya nanti malam."
"Aku mau sekarang."
"Aigoo...neo jinjja.. (kau benar-benar)"
"Jinjja mwoya? (benar-benar apa?)"
"Joha kita pulang sekarang. Kau membuat pandangan semua orang tertuju pada kita Kyu." kataku sambil mengamit lengannya dan segera meninggalkan Incheon Airport.

[Flashback]

"Kyuhyun-ssi mianhaeyo karena aku tiba-tiba muncul dihadapanmu."
"....."
"Kuharap kau tidak marah padaku apalagi pada Yoonhae."
"Apa hakmu mengaturku?"
"Ahh mianhaeyo."
"....."
"Kyuhyun-ssi sebenarnya aku tidak tahu kalau Yoonhae sudah menikah. Aku datang hanya untuk memenuhi janjiku pada Yoonhae."
"Mworagoyo?"
"Tolong jangan salah sangka dulu."
Hyukjae membetulkan posisi duduknya sebelum memulai bercerita.
"Dulu saat aku dan Yoonhae masih bersama aku berjanji akan menikahinya. Tapi karena saat itu kami masih baru menyelesaikan S1 kami dan aku belum memiliki pekerjaan aku memutuskan untuk mencari pekerjaan terlebih dahulu sebelum benar-benar melamarnya. Akhirnya aku pergi ke Taiwan. Aku bekerja dan melanjutkan studiku disana. Aku akui aku salah karena selama dua setengah tahun aku disana sekalipun aku belum pernah memberi kabar pada Yoonhae bahkan keluargaku."
Kyuhyun mendengarkan cerita Hyukjae dengan seksama.
"6 bulan yang lalu aku kembali ke Korea untuk menjenguk orang tuaku dan Yoonhae. Tapi aku kurang beruntung saat itu. Dalam perjalanan menuju rumah Yoonhae aku mengalami kecelakaan yang membuatku harus tinggal di Rumah Sakit selama lima bulan dalam keadaan koma. Dan saat aku sadar yang pertama kuingat adalah Yoonhae. Aku pergi kerumah Yoonhae tapi Yoonhae omma memberitahuku bahwa dia telah menikah dan dia memberiku sebuah alamat. Lalu aku memutuskan untuk mencari alamat itu dan mencari tahu apa benar Yoonhae telah menikah. Dan sampailah aku ke apartemenmu Kyuhyun-ssi."
"Jadi begitu ceritanya?"
"Ya begitulah. Kuharap kau tidak salah sangka padaku. Aku sama sekali tidak bermaksud untuk merebut Yoonhae dari sisimu. Aku benar-benar tidak tahu kalau dia sudah menikah denganmu. Aku merelakan Yoonhae untukmu karena aku merasa aku telah gagal membahagiakannya."
"Maafkan aku Hyukjae-ssi karena aku sudah sempat mengira kau akan mengambil Yoonhae dari sisiku."
"Kau tidak perlu meminta maaf. Mungkin ini hukuman yang harus kuterima karena dulu aku telah meninggalkannya."
"Aku akan menjaga Yoonhae dengan baik."
Hyukjae mengangguk.
"Jangan ulangi kesalahanku atau kau akan menyesal di kemudian hari karena telah meninggalkannya seperti yang kualami sekarang."

[Flashback end]

***

-THE END-


No comments:

Post a Comment